Learning was designed using demonstration and role play method to Improve Social Intelligence of Class X IPS 1 A Students at SMA Negeri 2 Sidrap Regency

images

Muhammad Idrus,S.Pd

This TEXT discusses The Application of Demonstration Methods and Role Playing in Improving Student Learning outcomes in the Moral Aspects of Class X IPS 1 UPT SMAN 2 Sidrap. The main problems studied focus on how to implement demonstration and role play methods, learning outcomes of moral aspects and supporting factors and The barrier aims to determine the process of implementing the Demonstration and Role Playing method from beginning to end and to describe the moral aspects of students after its implementation.

    As a complement to this thesis, the author uses this type of classroom action research, with a qualitative descriptive approach. Research on problem disclosure as there is data analysis using field research, observation, interviews, and documentation using data analysis, namely, data presentation, data reduction, and drawing conclusions (verification).               The results of this study indicate that the implementation of Islamic Education learning in the method of demonstration and role playing, is well executed, effective and efficient, fun and exhilarating. Positive impact for students on learning. Students prefer the learning process of the group discussion method. Group discussions provide a lot of different knowledge and knowledge according to the opinions of each group member from various references.    Aspects of Moral personality, discipline, responsibility and empathy that exist in students need to be developed in UPT SMA Negeri 2 Sidrap. Each group member has good character so that it is maintained to improve the learning process to be carried out properly, effectively and efficiently. The morals possessed by each student have an assessment both in the relationship of the school environment and individuals. Have a good social, get a value or award so that it is maintained / improved.    There are several supporting factors in the application of demonstration methods and role playing to feel comfortable and enjoyable, increase self-confidence, responsibility, think in one goal and interest in learning. Some of these factors are interrelated, related and need and complement each other. Then the inhibiting factors that occur in the application of demonstration methods and role playing include excessive fun, limited learning resources and learning media and lack of skill. Minimizing the inhibiting factors of teachers being able to design learning innovations to make supporting factors more visible. Inhibiting factors are not determinants of the achievement of learning objectives, but supporting factors that can increase learning goals more maximally, effectively and efficiently.

Keywords: Demonstration and Role Playing and Morals

Tulisan ini menerapkan strategi untuk memperbaiki dan mengelola kegiatan pembelajaran dalam upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik pada aspek akhlak. Permasalahan pokok yang dikaji yaitu penggunaan metode demonstrasi dan bermain peran untuk memperoleh hasil belajar khususnya pada aspek akhlak peserta didik. Tulisan ini menggunakan jenis penelitian Tindakan Kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan penyajian dan analisis data dengan teknik penelitian lapangan, pengamatan, wawancara, dan dokumentasi dengan menggunakan analisis data yaitu, penyajian data, reduksi data, dan penarikan kesimpulan.

  Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam tiga putaran. Hasil tindakan yang dilaksanakan terlihat dari data yang diperoleh dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik dengan mencapai skor perolehan rata-rata dari 48,48% pada putaran pertama, meningkat pada putaran kedua dengan skor perolehan rata-rata 81,81% dan putaran ketika dengan skor perolehan denga rata-rata 99,99%, secara kelompok telah mencapai syarat kelulusan. Hasil penelitian tindakan ini menunjukkan bahwa penerapan metode demonstrasi dan Bermain peran dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada aspek akhlak kelas X IPS 2 dengan ketuntasan mencapai 99,99%, dengan demikian penerapan metode demonstrasi dan bermain peran efektif dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik pada Aspek Akhlak.  

  Berdasarkan data dari penelitian yang dilakukan memperlihatkan bahwa penerapan strategi pembelajaran dengan metode demonstrasi dan bermain peran memberikan pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik di kelas X IPS 1 UPT SMAN 2 Sidrap Kabupaten Sidenreng Rappang Provinsi Sulawesi Selatan. Dengan menerapkan metode demonstrasi dan bermain peran yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan alat atau media belajar dan pembelajaran, mendengarkan atau memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar peserta didik dengan peserta didik, dan antara peserta didik dengan guru.

Kata Kunci: Demonstrasi dan Bermain Peran dan Akhlak

 

PENDAHULUAN

Penyelenggaraan penguatan karakter merupakan permasalahan mendasar dalam rangka pelaksanaan kurikulum sekolah atau madrasah dengan sistem belajar dan pembelajaran secara menyeluruh, seperti yang terangkum pada kurikulum sistem pendidikan yang terdapat pada setiap tingkatan pendidikan agar dipahami pada setiap peserta didik sebagai bagian dari pendidikan akhlak dan perbuatan sifat terpuji serta bermartabat. Makanya pelaksanaan penguatan karakter yang dapat memberikan pengaruh dan implementasi terlaksananya sistem pendidikan nasional secara menyeluruh.[1]

Pendidikan karakter serta akhlakul karimah merupakan upaya maksimal  berupa pembimbingan yang terarah pada peserta didik agar supaya kelak setelah mengikuti kegiatan pembelajaran pendidikan akhlak, sesegera mungkin dapat mengaplikasikan dalam kehidupannya, demikian juga dapat menjadikan sebagai cerminan budaya guna menggapai suasana hati yang dapat menyelamatkan hidupnya yeng bersifat jangka pendek maupun yang bersifat jangka panjang. Penguatan  akhlaqul karimah seharusnya memiliki nilai-nilai karakter kepribadian yang beretika  dan normatif supaya peserta didik selalu memiliki jiwa agamis sebagai seorang Muslim, selain mampu  menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan tentang agama dan budi pekerti, dan yang paling mendasar bagaimana merefleksikan dalam bentuk tingkah laku kesehariannya, serta mencerminkan kehidupan yang berakhlak mulia.

Indikator keberhasilan dalam pembelajaran untuk setiap jenjang tingkatan sekolah ataupun madrasah yaitu sejauhmana memberi pengaruh terhadap pencapaian tujuan pembelajaran yang mencakup aspek kognitif, aspek afektif, dan psikomotorik serta kecakapan hidup mandiri guna mengembangkan kreatifitasnya, berkesinambungan sesuai kemampuan yang dimilikinya.

Tujuan utama pendidikan karakter akan ditujukan kepada perkembangan secara menyeluruh terhadap kompetensi pengetahuan setiap peserta didik untuk merubah dirinya menjadi lebih baik, yakni terhadap sikap, pengetahuan dan keterampilan. Hal ini dimaksudkan agar menjadi pedoman hidup bagi peserta didik, oleh karena itu selain memerlukan kekuatan fisik, pemikiran dan pengetahuan, peserta didik juga memerlukan kekuatan mental spiritual, akhlak mulia, cita rasa, keinginan, dan karakter perilaku dalam hidupnya.

Pendidikan karakter adalah rangkaian kegiatan proses pembentukan nilai-nilai dan pengembangan keseluruhan dari dimensi kehidupan manusia. Nilai-nilai kehidupan dan kepribadian peserta didik merupakan perilaku sikap mencerminkan pemahaman agama dan budi pekerti yang luhur kepada Allah Rabbul Alamin kecerdasan emosional, perilaku jujur, sikap sosial, disiplin, integritas, serta penuh rasa percaya diri secara seimbang, sehingga proses sifat kedewasaan, daya fikir, etos kerja, tanggung jawab, cipta dan karya akan berguna dengan baik dalam menjalankan kewajiban hidup (life task) peserta didik dengan berdaya guna.[2]

Pelaksanaan pendidikan karakter harus selalu berkemajuan sesuai dengan perkembangan kehidupan peserta didik, di dalam berinterksi dengan masyarakat. Sejak dahulu, sekarang maupun di waktu mendatang pendidikan senantiasa mengalami perubahan, peningkatan, bersamaan dengan dinamika kehidupan masyarakat berkemajuan dan berkeadaban yang tinggi.[3]

 

Pelaksanaan sistem pembinaan karakter dan pembelajaran yang dicanangkan oleh pemerintah sudah berusaha semaksimal mungkin dalam melaksanakan bentuk pengajaran secara menyeluruh yang sudah ditetapkan menurut perundang-undangan, di mana pemerintah memberikan hak sepenuhnya kepada setiap warga negara untuk memperoleh pengajaran dimulai dari pengajaran anak usia dini melalui lembaga pendidikan di tingkat taman kanak-kanak, pencanangan wajib belajar di tingkat pendidikan luar sekolah adalah hak dan kewajiban bersama antara individu. Pendidikan adalah hak dan kewajiban bersama antara individu, masyarakat maupun pemerintah sebagai pemangku kebijakan.[4]

Hasil belajar adalah skor nilai yang diperolah dari kegiatan belajar dan proses pembimbingan yang diperoleh dari kelompok belajar dengan kriteria ketuntasan minimal. Hasil tersebut dapat dikatakan hingga obyek yang diberi skor adalah proses kegiatan pembelajaran pada subyek dan obyek belajar. Proses kegiatan belajar dari peserta didik seyokyanya merupakan pendidikan karakter, perilaku mulia dalam setiap kegiatan pembelajaran yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan.

Upaya penguatan karakter yang seimbang, efektif serta efisien sangat bermanfaat untuk peningkatan cara belajar bagi kelompok belajar yang dapat memperbaiki hasil dari kegiatan belajar dan pembelajaran. Komponen penting yang dapat memperbaiki hasil belajar adalah cara belajar yang baik, dorongan dari dalam dirinya, tanggung jawab, serta lingkungan fisik sebagai tempat belajar dan pembelajaran dalam menuntut ilmu, dan dapat mempengaruhi kekuatan intelektualisme peserta didik.

Pelaksanaan pendidikan karakter pada peserta didik diusahakan agar supaya proses belajar dan pembelajaran berlangsung dengan efektif, efisien, inovatif, kritikal, dan tidak membosankan. Suatu bentuk kegiatan dilakukan agar supaya memafaatkan strategi belajar bervariasi serta berkolaborasi. Hal tersebut disebabkan pada hakikatnya setiap strategi belajar mempunyai kebaikan dan keburukan. Pendidik melaksanakan kegiatan proses belajar dan pembelajaran dapat dianggap berhasil apabila dapat menggunakan metode pembelajaran secara bervariasi, mengelaborasi beberapa metode mengajar, simulasi, diskusi kelompok, penugasan secara portopolio.[5]

Dengan merujuk pada pengamatan yang dilaksanakan di UPT SMA Negeri 2 Sidrap Kabupaten Sidenreng Rappang khususnya di kelas X IPS 1 masih ditemukan beberapa kendala pada saat guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar peserta didik terlihat bermain-main, mengobrol dalam kegiatan proses belajar yang sedang berlangsung, ada juga sebahagian tidak aktif dalam  proses  pembelajaran, keadaan kelas terkadang terdengar kegaduhan dan belum terkondisikan dengan harapan. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran masih terlihat peserta didik kurang sopan terhadap guru, yang menyebakan hasil belajar yang tidak mencapai ketuntasan minimal atau KKM. Disebabkan tidak terciptanya komunikasi yang harmonis antara pengampu pendidikan dengan kelompok belajar itu.

 Penerapan metode Pembelajaran Demontrasi dan Bermain Peran terhadap hasil belajar tentunya bukanlah permasalahan yang ter up date pada kegiatan pembelajaran. Berbagai kegiatan pembelajaran dalam sebuah kegiatan riset pernah dikasanakan yang akan dibandingkan dengan penelitian ini. Adapun penelitian yang akan dibandingkan oleh peneliti adalah sebagai berikut:

Jurnal Istiqra Abdul Gafur Marzuki, dengan judul “Pelaksanaan Pembelajaran Learning dalam mengembangkan kemampuan menulis Mahasiswa Pendidikan Agama Islam pada Fakultas Tarbiyah UIN Palu Sulawesi Tengah”. Substansi pembahasan dalam kegiatan action research classroom dengan penerapan Strategi Pengajaran Quantum Learning pada pembelajaran pendidikan Agama Islam.[6]

Hubungan penelitian tersebut dari pada kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peneliti yakni Penelitian Tindakan Kelas. Adapun pada proses kegiatan penelitian ini akan menerapakan Model Pembelajaran  Quantum Learning terhadap kelompok belajar dalam memahami  sejauhmana tingkat kemampuan menulis Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah UIN Palu Sulawesi Tengah.

Pada tahun 2015 sebuah riset dilaksanakan oleh Erma Langka dengan tema pembahasan Tesis Penerapan Strategi Pembelajaran Active Learning Picture Describing Terhadap Peningkatan Motivasi Belajar Bahasa Arab Peserta Didik Kelas XI Madrasah Aliyah Negeri Baranti Kabupaten Sidrap.[7]

Sementara itu hasil riset lainnya yang mirip dengan penelitian ini yakni hasil ulasan yang telah dilaksanakan pada tahun 2017 dalam Muflihah dengan tema tesis Penerapan Strategi Make a Match Guru Pendidikan Agama Islam Terhadap Prestasi Belajar Peserta Didik Kelas VIII MTs Al-Wasilah Lemo di Desa Kuajang Kecamatan Binuang Kabupeten Polewali Mandar.[8]

Adapun perbedaan ulasan terdahulu adalah terletak pada desain penelitian, di mana kegiatan yang akan dilakukan dalam pembahasan tersebut adalah assosiatif kuantitatif. Sedangkan ulasan yang dilaksanakan oleh Muflihah yakni deskriptif kuantitatif. Adapun veriabel independen (X) pada penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan juga berbeda , variabel independen (X) pada penelitian yang dilakukan oleh muflihah yaitu Penerapan metode belajar Make a Match Guru Pendidikan Agama Islam, sedangkan variabel independen (X) pada penelitian yang akan dilakukan yaitu penerapan metode Demonstrasi dan Bermain Peran.

Asal kata metode diambil dari Bahasa Yunani “Methodos” yakni artinya aturan atau sistem yang ditempuh. Serangkain berbagai jalan obyektif, maka metode berarti kegiatan yang berkaitan sistem kerja untuk mengetahui sasaran obyek yang berhubungan.[9] Sedangkan dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), yang disusun oleh W.J.S. Poerwadinata, bahwa metode merupakan jalan usaha dilakukan untuk mempermudah pencapaian dari suatu kegiatan tertentu. Menurut KBIK (Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer), makna metode[10] merupakan jalan atau sistem yang dilakukan secara teratur guna menyederhanakan suatu perlakuan untuk meraih tujuan yang diharapkan.[11]

Sedangkan menurut istilah atau terminologi dalam Mulyanto Sumardi, memberikan arti metode merupakan konsep secara utuh nan berkaitan pada penyampaian bahan pengajaran menurut struktur serta mesti berlawanan dengan atas dasar pendekatan.[12] Selanjutnya dalam H. Muzayyin Arifin menjelaskan arti kata metode merupakan suatu jalan yang akan ditempuh  untuk memenuhi target yang telah ditentukan. Teknik merupakan sistem atau kaidah yang dapat dipergunakan guna menggapai arah atau haluan yang diharapkan, maka dibutuhkan pengetahuan yang cukup memadai untuk meraih yang diinginkan.

Banyak metode yang dapat dipergunakan dalam mengembangkan kompetensi peserta didik. Dalam menentukan metode yang dipergunakan dalam menyajikan materi pembelajaran, maka peneliti terlebih dahulu akan menentukan jenis strategi dalam belajar. Sedangkan dalam Nana Sujana, sistem yang biasa dilakukan dalam kegiatan belajar dan pembelajaran yakni metode diskusi kelompok, metode ceramah, metode pelatihan, metode studi lapang.[13]

Metode demonstrasi adalah sebuah sistem belajar dan pembelajaran di mana dapat memperlihatkan suatu gerakan pada proses kegiatan pembelajaran kapada peserta didik sesuai materi atau bahan yang diajarkan. Dengan mempergunakan strategi yang tepat, pendidik dapat memperagakan kepada semua peserta didik mengenai proses kegiatan yang sedang berlangsung.[14] Sedangkan dalam Aminuddin Rasyad, menjelaskan metode demonstrasi yaitu suatu sistem  belajar yang sedang memperagakan, mempertontonkan dan mempraktekkan kegiatan adegan guru di hadapan kelompok yang sedang mengikuti kegiatan belajar dan pembelajaran.[15]

Strategi belajar dan pembelajaran ini merupakan suatu metode yang dilakukan untuk memperagakan serangkaian tindakan berupa gerakan yang menggambarkan suatu cara kerja atau urutan proses sebuah peristiwa ataupun kejadian. Biasanya metode demonstrasi ini dipakai untuk membuktikan sesuatu atau gerakan untuk ditiru.[16]

Metode demonstrasi dapat menuntun kegiatan peroses belajar dengan cara memperagakan langsung berupa akting atau adegan kemudian diikuti oleh peserta didik sehinggga sikap, pengetahuan dan keterampilan agar lebih menguatkan daya serap dalam menerima materi pembelajaran bagi peserta didik. Sejarah perkembangan strategi belajar mengajar, penerapan metode belajar seperti ini, sudah terbiasa dilakukan oleh para Nabi dan Rasul terdahulu sebagai manusia pilihan dalam menyampaikan wahyu kepada pengikutnya dengan mengunakan strategi pengajaran sebagai wujud prilaku dalam mempraktekkan tata cara beribadah yang benar seperti mengajarkan tata cara melaksanakan shalat dengan benar, berwudhu sesuai tuntunan syariat Islam. Semua tata cara tersebut yang telah diajarkan kepada ummatnya lalu kemudian diikuti oleh para pengikut beliau.

Penerapan metode ini dilaksanakan dalam kegiatan proses belajar mengajar harus dipahami oleh seorang pendidik, yang meliputi kegiatan evaluasi awal dalam pelaksanaannya, kemudian diikuti oleh peserta didik yang diakhiri dengan penilaian.[17] Mengenai tahapan kegiatan tersebut dapat diuraikan berikut ini:

  1. Menyusun rumusan tujuan pembelajaran yang mencakup sikap, pengetahuan dan keahlian yang dimiliki oleh peserta didik setelah kegiatan berlangsung.
  2. Mempersiapkan dengan matang, strategi belajar dan pembelajaran itu sehingga mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran bagi peserta didik.
  3. Menyiapkan media pembelajaran untu mempermudah, dan telah diuji cobakan sebelumnya agar supaya padan waktu pelaksanaan kegiatan dapat berjalan sesuai dengan harapan.
  4. Metode demonstrasi dengan jumlah peserta didik dapat dilaksanakan.
  5. Sebelum kegiatan dilakukan, agar diadakan uji coba terlebih dahulu supaya tidak mengalami kegagalan.
  6. Melaksanakan kegiatan diskusi kelompok guna mengembangkan kemampuan peserta didik memperoleh hasil kegiatan yang dilakukan.

Pelaksanaan strategi atau teknik pembelajaran memiliki fungsi yang sangat berpengaruh pada perbaikan hasil belajar. Sehingga dapat memberi manfaat pada pelaksanaan proses belajar, baik secara psikilogis, maupun pedagogic. Untuk mempercepat pencapain hasil pembelajaran yang diharapkan dengan mempergunakan metode pembelajaran yang tepat , maka dilakukan hal-hal sebagai berikut :

 1). Konsentrasi peserta didik menjadi lebih terpusat.

 2). Proses pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efisien.

 3). Kemampuan belajar peserta didik lebih mudah untuk dikembangkan.

Metode demosntrasi dilakukan dengan maksud untuk menunjukkan arah pencapaian belajar bagi peserta didik untuk mengembankan kompetensi dan target pembelajaran dapat dicapai dengan baik. Strategi belajar dan mengajar yakni sebuah bentuk rangkaian belajar yang dilakukan dengan cara mempraktekkan adegan langsung kepada kelompok belajar. Untuk dapat mencontohkan kegiatan yang dilakukan oleh pendidk, maka terdapat serangkaian yang harus dilakukan oleh pendidik adalah sebagai berikut:

1). Bentuk kegiatan harus diperagakan oleh pendidik atau peserta didik yang dapat diamati secara langsung dan nyata pada kelompok belajar. Maka dari itu, sebaiknya menggunakan alat atau bahan pembelajaran yang mempermudah pelaksanaan kegiatan belajar dan pembelajaran.

2). Penyampaian pesan pendidik kepada peserta didik harus benar-benar dapat disimak dengan jelas dan menarik sehingga mudah untuk dipahami.

3). Demonstrasi yang dilakukan harus melibatkan peserta didik bersama guru.[18]

Proses pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan mengelaborasi pengalaman belajar dengan menggunakan metode role playing (bermain peran), adalah salah satu teknik pemahaman materi pembelajaran dengan membangkitkan semangat bagi peserta didik. Strategi belajar [19]bermain peran atau role playing merupakan suatu kegiatan pembelajaran di mana termasuk salah satu teknik simulasi.

Strategi belajar role playing (bermain peran) sering dimaknai sebagai salah satu teknik pemahaman materi pembelajaran yang dapat mengembangkan kreativitas peserta didik. Peningkatan kemampuan menganalisi materi bagi peserta didik dalam memerankan suatu peristiwa yang melibatkan tokoh atau pelaku sejarah. Hal ini dapat mempermudah bagi peserta didik memahami perannya. Terdapat banyak faktor harus dilakukan dalam menerapkan teknik bermain peran yaitu menentukan tema, mempersiapkan personil pelaku, menyiapkan lembar kerja peserta didik (LKPD), belajar berdialog dengan benar sesuai peran yang akan dilakoni.[20]

Kegiatan proses belajar dan pembelajaran memiliki unsur-unsur pokok, yakni arah pembelajaran, kegiatan belajar, dan hasil pembelajaran. Keterkaitan antara tujuan, kegiatan dan hasil belajar memperlihatkan adanya keterkaitan antara pengalaman belajar dengan tujuan pembelajaran, pengalaman belajar dengan hasil belajar. Dampak dari kegiatan pembelajaran tidak hanya berpengaruh dalam hal pencapaian belajar dan pembelajaran dalam rangka pembentukan perilaku atau karakter peserta didik, namun diharapkan menjadi bahan evaluasi sebagai upaya untuk memperbaiki kualitas pengajaran.[21]

Hasil dari kegiatan belajar adalah skor yang didapatkan berdasarkan pada acuan penilaian tertentu. Hasil ini memberikan gambaran sejauhmana perolehan nilai dari hasil belajarnya. Perolehan nilai dari pelaksanaan kegiatan belajar sesungguhnya merupakan perolehan nilai berupa perilaku, karakter sebagai yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.[22] Oleh karena itu, dari hasil evaluasi belajar dan pembelajaran yang berisi rumusan indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran mampu merubah karakter dan perilaku sifat terpuji yang diharapkan bagi peserta didik agar menjadi unsur terpenting dalam acuan penilaian.

“Membuat atau merancang tujuan pembelajaran, menyelenggarakan kegiatan belajar dan pembelajaran, bertindak sebagai pendidik untuk mengajar atau membelajarkan, mengevaluasi hasl belajar yang berupa dampak pengajaran. Peran peserta didik adalah bertindak belajar, yaitu mengalami proses belajar, mencapai hasil belajar, dan menggunakan hasil belajar yang digolongkan sebagai dampak pengiring dengan belajar, maka kemampuan mental semakin meningkat. Hal itu sesuai dengan perkembangan peserta didik yang beremansipasi diri sehingga ia menjadi utuh dan mandiri.”[23]

Dalam melakukan evaluasi hasil belajar dan pembelajaran menurut Dimyati dan Budjiono dijelaskan bahwa:

“Evaluasi hasil belajar dan pembelajaran menekankan kepada diperolehnya informasi tentang seberapakah perolehan siswa dalam mencapai tujuan pengajaran yang ditetapkan. Sedangkan, evaluasi pembelajaran merupakan proses sistematis untuk memperoleh informasi tentang keefektifan proses pembelajaran dalam membantu peserta didik mencapai tujuan pemelajaran secara optimal.”[24]

Berdasarkan pendapat yang telah disebutkan tadi, maka dapat disimpulkan baik atau buruknya suatu hasil belajar dapat ditentukan dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan dan dari hasil evaluasi pembelajaran yang diperoleh.

  • Dalam menilai hasil belajar dan pembelajaran hendaknya dirancang sedemikian rupa sehingga jelas kapabilitas yang harus dinilai, materi penilaian, alat penilaian, dan interpretasi hasil penilaian.
  • Penilaian hasil belajar dan pembelajaran hendaknya menjadi bagian integral dari proses belajar mengajar. Anrtinya, penilaian senantiasa dilaksanakan pada setiap saat proses belajar mengajar sehingga pelaksanaannya berkesinambungan.
  • Agar diperoleh hasil belajar yang objektif dalam pengertian menggambarkan hasil belajar dan kemampuan peserta didik sebagaimana adanya, penilaian harus menggunakan berbagai alat penilaian dan sifatnya komprehensif.
  • Penilaian hasil belajar hendaknya diikuti dengan tindak lanjutnya. Data hasil penilaian sangat bermanfaat bagi guru maupun bagi peserta didik.[25]

a). Merancang dan merumuskan tujuan-tujuan pembelajaran. Dengan mempertimbangkan fungsi evaluasi belajar, prestasi belajar dalam menentukan tingkat ketercapaian tujuan belajar yang telah ditetapkan, maka sangat diperlukan usaha untuk memperjelas indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran yang telah direncanakan sesuai dengan alat penilaian yang telah disusun.

b).   Menelaah bahan pengajaran yang esensial sesuai acuan pedoman silabus materi pembelajaran. Mengingat pentingnya masalah ini untuk memperbaiki instrument pengajaran yang bersesuaian materi pokok yang akan disajikan serta penguasaan materi yang esensial berdasarkan indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran memuat isi kurikulum dan sasaran hasil evaluasi pembelajaran.

c).  Mendesain instrumen penilaian, baik berupa alat tes maupun berupa alat non tes, yang dapat dipergunakan untuk mengevaluasi perilaku peserta didik sesuai tujuan pembelajaran.

d). Memanfaatkan rumusan hasil evaluasi belajar yang diperoleh, yakni untuk keperluan pendeskripsian kompetensi peserta didik dalam upaya memperbaiki, serta persiapan perbaikan tindak lanjut pembelajaran, begitu pula untuk keperluan pertanggung jawaban pengajaran.[26]

Hasil evaluasi belajar dan pembelajaran yang dilakukan untuk melihat sejauh mana peningkatan belajar dan penguasaan bahan pengajaran oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan sebelumnya.

Proses kegiatan belajar dan pengajaran  yang terjadi secara alamiah bisa dikategorikan apabila cara yang dilakukan dan akan meningkatkan kecerdasan sentimental, kecerdasan kognitif, dan kecerdasan spritual setiap manusia untuk membangkitkan daya tarik dan motivasi belajar pada dirinya. Pelaksanaan kegiatan proses belajar dan pembelajaran dapat berpengaruh terhadap aspek tingkah laku, mental spiritual, tindakan dan gagasan pada peserta didik dengan beragam hubungan dan kompetensi belajarnya.[27]

Belajar memiliki arti luas dalam berbagai perspektif baik berupa  tinjauan sosiologi, psikologi, dan pendidikan. Sedangkan pengertian belajar berdasarkan perspektif psikologi yaitu suatu rangkaian proses peningkatan pada aspek moral meliputi hubungan dengan tempat di mana berada untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Pembelajaran merupakan serangkaian kegiatan, jalan, perlakuan yang membuat  manusia untuk melakukan aktivitas belajar, sehingga subyek pembelajaran yang dimaksudkan adalah peserta didik yang akan menjadi pusat kegiatan pembelajaran atau student centre. Peserta didik sebagai komponen penting dalam kegiatan proses pembelajaran dituntut lebih aktif berperan untuk memecahkan, mendapatkan, menelaah, mendeskripsikan, dan menafsirkan permasalahan.[28]

Penerapan kegiatan pembelajaran pada aspek akhlak merupakan suatu cara yang insyaf dan terencana secara terstruktur dalam menyampaikan materi belajar dan pembelajaran kepada kelompok belajar untuk mempelajari, mendalami, dan menerapkan yang didasari dalam meningkatkan pengamalan ajaran islam, prilaku sifat terpuji dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran setiap hari.

Dalam proses kegiatan belajar dan pembelajaran dilaksanakan, guru terlebih dahulu menyampaikan beberapa hal yang berkenaan dengan pembelajaran sikap perilaku terpuji bagi peserta didik. Penyajian informasi seperti ini agar peserta didik dapat memiliki sikap keteladanan dalam dirinya serta dapat bertutur kata yang sopan baik kepada peserta didik maupun terhadap guru.

Sesuai dengan prinsip dalam kegiatan pembelajaran peserta didik sebagai pilar utama dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang terkenal dengan sebutan Student Centre. Di mana peserta didik merupakan sentral pelaksanaan kegiatan proses belajar dan pembelajaran yang berimbang apabila siswa lebih fokus dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Keberhasilan pelaksanaan kegiatan proses belajar dan pembelajaran ditandai ketika terjadinya  komunikasi yang baik antara guru dengan peserta didik di dalam kelas.

Kegiatan tindak lanjut biasa dilakukan  kegiatan proses belajar dan pengajaran yang telah dilaksanakan oleh seorang pengampu bidang studi bersama dengan peserta didik dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran pada aspek akhlak. Kegiatan tindak lanjut dimaksudkan untuk mengevaluasi atau menilai proses belajar dan pembelajaran peserta didik sesuai tindakan dalam kelas.

Dengan berdasar dari beberapa pengertian yang telah diuraikan, maka akan mendapatkan suatu kepastian di mana maksud serta arah pembinaan karakter, sifat-sifat terpuji atau akhlakul karimah sangat berguna dalam peningkatan keyakinan dan pengamalan ajaran syariat Islam kepada peserta didik untuk kemaslahatan hidupnya baik di dunia maupun di akhirat kelak

Arah mendasar dari penelitan tindakan kelas yakni untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang timbul dalam pelaksanaan kegiatan proses belajar mengajar sekalian menemukan jalan penyelesaiannya lewat berbagai tindakan yang dapat dilaksanakan. Penelitan Tindakan Kelas akan memberi arah dalam peningkatan profesionalisme guna memperbaiki kegiatan proses kegiatan pembelajaranyang dilakukan. Arah utama penelitan yang dilaksanakan yaitu menemukan serangkaian problematika tugas para pendidik guna mengembangkan mutu proses kegiatan belajar mengajar di kelas.

Kerangka Teori dalam penelitian yaitu pedoman berupa gambaran umum penelitian yang diuraikan berdasarkan topik yang telah dipilih. Buah fikiran atau saran dituangkan pada kerangka berfikir. Sehingga dapat dikatakan bahwa “kerangka fikir merupakan rincian topik atau berisi hal-hal yang bersangkutan dengan topik”.[29]

Kerangka fikir ini berfungsi sebagai dasar utama secara spesifik dalam menemukan cara memecahkan permasalahan yang timbul pada pembahasan dalam karya tulis ( tesis ) untuk menjadi representasi pendidik dalam menerapkan Metode Pembelajaran Demonstrasi dan Bermain Peran Pada Apek Akhlak Peserta didik kelas X IPS 1 di UPT SMA Negeri 2 Sidrap Kabupaten Sidrap.

METODE PENELITIAN

Bentuk pelaksanaan kegiatan penelitian ini ialah penelitian yang dilakukan guna memperbaiki kegiatan proses belajar di kelas. Penelitian tindakan kelas menggambarkan ragam ulasan yang menjelaskan secara terperinci baik yang terkait prosedur ataupun produk belajar untuk memperbaiki mutu luaran dari proses pengajaran.[30] Penelitian tindakan kelas selain dapat berguna untuk menyelesaikan beberapa kendala yang timbul dalam kegiatan pembelajaran di kelas guna memperbaiki hasil belajar, penelitian tindakan kelas bertujan untuk membantu guru dalam mengembangkan kompetensi keprofesian yang berkelanjutan.

Pola implementasi dalam kegiatan penelitian ini yaitu penerapan pelaksanaan refleksi yang bersifat kerja sama yang dilakukan oleh seorang peneliti untuk melaksanakan berbagai tindakan untuk memperbaiki pelaksanaan kegiatan proses pengajaran. Guru sebagai pengampu mata pelajaran dalam melaksanakan tindakan yang telah disepakati bersama, agar supaya berjalan sesuai apa yang diinginkan oleh peneliti sebagai pengajar atau pembimbing serta guru sebagai penelaah.

Penelitian ini mempergunakan prinsip ulasan yang bentuknya berjenjang menurut Stephen dan Mc Taggart. Tiap-tiap jenjang mempunyai tiga langkah yakni persiapan, pengamatan, pelaksanaan rancangan tindak lanjut atau refleksi.[31]  Dalam penelitian tindakan atau refleksi terbagi menjadi berbagai siklus. Setiap siklus terbagi menjadi 4 (empat) macam komponen yaitu persiapan, implementasi, pandangan dan refleksi. Pada tahap persiapan peneliti menyusun semua persiapan tindakan yang mencakup waktu dan tempat penelitian, subyek penelitian dan segala perangkat yang meliputi obyek penelitian.

Berdasarkan ragam penelitian yang telah ditetapkan, yakni penelitian tindakan kelas yang menggambarkan bentuk penelitian tindakan dikembangkan oleh John Elliot yakni jenis penelitian berbentuk spriral yang bergerak dari putaran pertama ke putaran kedua dan putaran ketiga. Setiap putaran mencakup perencanaan, pelaksanaan, observasi serta tindak lanjut.[32]

Pelaksanaan kegiatan penelitian yang telah direncanakan, namun pada kenyataanya kegiatan banyak yang tidak sesuai dengan perencanaan, kejadian tersebut ditulis pada pencatatan data, gagasan, dan kesan-kesan sebagai hasil dari observasi. Tindakan yang dilaksanakan untuk membangkitkan daya kreatifitas kelompok belajar untuk mengembangkan keterampilan dalam kegiatan belajar dan pengajaran.

1). Merealisasikan kegiatan awal dimulai dengan mengadakan evaluasi pada peserta didik yang dijadikan sebagai fokus penelitian.

2). Melakukan penelitian tindakan  dengan menggunakan Metode Demonstrasi dan Bermain Peran, mempersiapkan peralatan pretest, melaksanakan test awal (pretest), memeberikan perlakuan pada kelas yang menjadi sampel dengan memperhatikan aspek-aspek pada strategi belajar dan pembelajaran dengan Metode Demonstran dan Bermain Peran, evaluasi dan penilain akhir (posttest)

     Tingkatan yang akan diadakan pada kegiatan penelitian ini yaitu:

a). Menyampaikan rencana dan strategi yang akan dilakukan kepada guru terutama kepada pihak pimpinan UPT SMA Negeri 2 Sidrap untuk memohon  izin melakukan    kegiatan penelitian.

b). Melakukan observasi di lingkungan sekolah terutama yang terkait kegiatan belajar dan pengajaran sesuai tujuan penelitian untuk mendapatkan informasi tentang masalah-masalah yang terkait problem dalam belajar.

c). Mengadakan pendekatan kepada para pendidik terutama guru agama Islam.

Data yang terdapat pada penelitian ini terdiri dua sumber dan jenis data yang akan dipergunakan untuk memperkuat hasil dari penelitian yang akan dilaksanakan

Data primer terdiri dari jenis data yang didapatkan peneliti dari dasar utama di mana penelitian tersebut akan dilakukan.[33] Data primer dikumpulkan dari survey, kuisioner, wawancara dan observasi. Data pada penelitian diambil dari UPT SMA Negeri 2 Sidrap Kabupaten Sidenreng Rappang.

Data sekunder yaitu didapatkan dari data yang tersedia yang diambil dari kajian kepustakaan yang diteliti oleh ahli sebelumnya yang terkait dengan masalah penelitian.[34] Penyusunan hasil penelitian ini, memperoleh informasi dari berbagai sumber buku referensi, untuk menguatkan pelaksanaan kegiatan penelitian yang akan dilaksanakan.

Pengambilan data merupakan tahapan utama yang dibutuhkan untuk memperoleh hasil penelitian yang berkualitas.[35] Teknik pengambilan data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah pengambilan data di lapangan dengan teknik literasi kepustakaa

Pengambilan data dengan teknik observasi dikatakan suatu bentuk penginderaan secara terbuka mencatat semua kejadian dalam pelaksanaan kegiatan penelitian.[36] Teknik ini dipergunakan untuk persiapan data bagi peneliti melaksanakan pengamatan terhadap proses belajar dan pengajaran. Observasi merupakan visi dan penyusunan secara berurut sesuai tahapan terhadap masalah yang timbul dalam penelitian yang sedang berlangsung.

Adapun jenis observasi yang akan dilaksanakan ialah observasi non sistematis atau pengamatan yang tidak membutuhkan petunjuk, peneliti melaksanakan kegiatan visi dengan segera terhadap kondisi di dalam kelas selama program kegiatan belajar dan pembelajaran berlansung, dapat diambil kesimpulan mengenai tingkat minat peserta didik. Melakukan pengumpulan data peneliti menggunakan teknik pengamatan langsung, yaitu pada posisi keberadaan peneliti dalam melaksanakan kegiatan penelitian pada saat aktivitas narasumber diketahui secara langsung, antara narasumber dengan peneliti terjadi komunikasi secara tatap muka.

Wawancara adalah salah satu alat pengumpul data dengan teknik memberikan beberapa pertanyaan dan jawaban kepada responden untuk dijawab secara lisan.[37] Wawancara atau interviu melibatkan proses transfer informasi dari orang yang diwawancara, agar keterangan yang diperolah lebih akurat terkait dengan masalah yang akan diteliti.

Teknik dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang digunakan untuk melakukan pemilihan beberapa tulisan yang dibutuhkan pada obyek yang akan diteliti, sehingga didapatkan data yang utuh, legal dan akurat. Teknik ini berfungsi guna mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Data yang didapatkan akan diteliti berkaitan gambaran proses kegiatan belajar yang sedang berlangsung pada penerapan metode demonstrasi dan bermain peran.

Alat pengumpul data informasi yang menggunakan data test untuk mengukur minat belajar peserta didik baik pretest maupun postest. Pretest dipergunakan untuk mengetahui sejauhmana kemampuan peserta didik sebelum penggunaan metode pembelajaran demonstrasi dan bermain peran dan postest dipergunakan untuk mengetahui sejauhmana hasil belajar peserta didik setelah penggunaan metode pembelajaran demonstrasi dan bermain peran.

Teknik menganalisi data yakni langkah proses pengolahan data menjadi informasi yang bermanfaat untuk memudahkan peneliti dalam memecahkan permasalahan. Analisis data yaitu langkah pada proses menemukan dan membentuk urutan  data yang didapat dari kegiatan interview, pencatatan di lokasi penelitian, dan materi lainnya sehingga dengan mudah diketahui dan hasil temuan dapat disampaikan kepada orang lain. Pengamatan data kualitatif bersifat induktif, yaitu analisis berdasarkan data yang diperoleh.

Menurut Miles dan Huberman teknik mengamati data yang terbentuk dari tiga jalur kegiatan yang bersamaan yakni: irisan data, pengauan data, pengambilan kesimpulan atau verifikasi.[38] Adapun ketiga jalur yang dimaksud akan diuraikan secara rinci adalah sebagai berikut.

Irisan data didefenisikan sebagai cara pengambilan, penajaman pandangan dari pada mengesampingkan, mengadaptasi, dan perubahan data lazim yang timbul dari bahan yang dibukukan di lokasi penelitian. Irisan data berjalan secara berkesinambungan sepanjang kegiatan yang berdasarkan penelitian kualitatif sedang dilaksanakan untuk mengantisipasi akan adanya irisan data yang terlihat pada waktu peneliti mengambil (seringkali tanpa disadari sepenuhnya) kerangka konseptual tempat kegiatan penelitian, persoalan penelitian, dan rencana pengambilan data yang sudah diambil. Setelah pengambilan data berlangsung, terjadila tahap irisan data berikutnya (menulis catatan ringkas, memberi kode, menelusuri topik, membentuk ikatan-ikatan, membentuk tabir, memberi coretan). Irisan data perubahan ini berjalan terus setelah penelitian lapangan, sampai pada penyususnan laporan hasil penelitian.

Miles dan Huberman mendeskripsikan bentuk penyampaian berbagai kumpulan data informasi yang disusun guna memberi kepastian serta adanya kemungkinan pengambilan kesimpulan dan pemberian tindakan. Mereka menganggap bahwa penyajian data yang lebih baik adalah sebuah langkah yang utama untuk menganalisis data kualitatif yang terdiri dari: beberapa jenis hologram, diagram, tabel dan gambar. Setelah semua dipersiapkan untuk mengelompokkan data informasi yang disusun rapi dalam bentuk secara terstruktur dan sistematis. Dengan cara begitu seorang peneliti akan menyaksikan langsung peristiwa yang terjadi, dan memastikan apakah pengambilan kesimpulan sudah sesuai yang dikehendaki ataukah masih terus mengolah hasil pengamatan yang disarankan untuk memperoleh data informasi yang dapat digunakan.

Pengambilan kesimpulan menurut Miles dan Huberman semata-mata sebagai bagian dari suatu komposisi yang sempurna. Ketetapan yang diambil juga akan dikonfirmasi selama kegiatan penelitian berjalan. Konfirmasi tersebut dimungkinkan sependek pengetahuan peneliti selama menyusun karya tulisnya, suatu tinjauan ulang pada catatan-catatan di lokasi penelitian, atau mungkin menghabiskan tenaga dengan peninjauan kembali serta tukar pikiran di antara teman sejawat untuk mengembangkan kesepakatan intersubjektif atau upaya-upaya yang luas untuk menempatkan salinan suatu temuan dalam seperangkat data yang lain. Kesimpulannya makna-makna yang timbul dari data yang lain harus diuji keabsahannya, keutuhannya, dan kecocokannya, yakni yang merupakan tingkat validitasnya. Ketetapan akhir tidak hanya terjadi pada waktu proses pengumpulan data saja, akan tetapi perlu dikonfirmasi agar betul-betul bisa dipertanggungjawabkan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian tindakan kelas ini mempergunakan strategi belajar dan pengajaran dengan penerapan metode Demonstrasi dan Bermain Peran. Maksud pokok yang hendak diperoleh dari proses kegiatan belajar dan pembengajaran di kelas X IPS 1 UPT SMA Negeri 2 Sidrap adalah untuk memperbaiki hasil belajar dan pembelajaran bagi peserta didik pada aspek akhlak dengan jumlah peserta didik sebanyak 33 orang.

Pelaksanaan Tindakan dalam penelitian dilakukan dalam 3 putaran yang terdiri dari 6 kali pertemuan. Waktu yang digunakan setiap kali pertemuan adalah 3 x 45 menit. Putaran pertama dilaksanakan pada tanggal  04 sampai dengan 09 Januari 2021, Putaran kedua pada tanggal 18 sampai dengan 23 Januari 2021 dan siklus ketiga pada tanggal 2 sampai dengan 8 Februari 2021. Penelitian Tindakan kelas dilaksanakan sesuai dengan prosedur rencana pelaksanaan pembelajaran dan metode belajar dan pembelajaran.

Dalam pelaksanaan tahapan ketiga pengajar atau peneliti sudah menggunakan metode demonstrasi dan bermain peran telah dilaksanakan dengan beberapa akitivitas untuk memperoleh hasil belajar yang diinginkan dari kegiatan belajar yang telah dilaksanakan. Namun demikian upaya untuk tetap mengembangkan serta mempertahankan apa yang sudah dilakukan dengan maksud agar kegiatan pembelajaran pada penggunaan metode demonstrasi dan bermain peran untuk memperbaiki hasil belajarnya

   Setelah dilaksanakan beberapa perlakuan pada tahapan pertama, tahapan kedua dan tahapan ketiga. Dari hasil pengolahan data yang didapatkan dalam penelitian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa:

  1. Terdapat kenaikan hasil belajar sesudah diadakan perlakuan yaitu peningkatan dari 48,48% menjadi 81,81% ada peningkatan yaitu 33,33%.
  2. Sebelum dan setelah perlakuan dari putaran pertama sampai dengan putaran kedua, yaitu terjadi peningkatan dari 48,48% menjadi 81,81% sebesar 33,33%, dan dari putaran kedua ke putaran ketiga terjadi peningkatan sebesar dari 81,81% menjadi 99,99% sebesar 18,18%.
  3. Hasil belajar peserta didik mengalami kenaikan 48,48% pada putaran pertama, 81,81% pada putaran kedua, dan 99,99% pada putaran ketiga.

Menurut data dari pengamatan dan analisis data, didapat gambaran bahwa peran aktif guru dan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran di kelas X IPS 1 UPT SMAN 2 Sidrap Kabupaten Sidenreng Rappang Provinsi Sulawesi Selatan dengan menerapkan metode demonstrasi dan bermain peran dengan mempergunakan beberapa teknik atau media belajar dan pembelajaran, menyimak dengan baik petunjuk guru pembimbing, kegiatan berdiskusi antar kelompok belajar dengan kelompok belajara lainnya, dan antar peserta didik dengan guru pembimbing. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa peran serta peserta didik dengan seperti yang dilakukan pada kegiatan belajar tersebut dapat dikatakan berjalan sesuai yang diharapkan. Sedangkan untuk peran aktif pendidik selama kegiatan belajar yang dilakukan berbagai tahapan strategi belajar dan pembelajaran melalui penerapan metode demonstrasi dan bermain peran dengan baik. Hal tersebut terbukti dari berbagai kegiatan yang dilakukan guru diantaranya kegiatan mengarahkan dan mencermati kegiatan mereka aktif dalam proses belajar, menguraikan materi, melakukan diskusi kelompok, mengadakan ulangan untuk mendapatkan prosentasi hasil belajar yang diharapkan.

Berdasarkan data dari hasil pembahasan yang telah diuraikan terdahulu, maka hasil pembelajaran yang diperoleh peserta didik di kelas X IPS 1 UPT SMAN 2 Sidrap Kabupaten Sidenreng Rappang Provinsi Sulawesi Selatan dengan menggunakan Strategi belajar dengan menerapkan metode demonstrasi dan bermain peran adalah hasilnya amat baik. Hal tersebut berdampak pada putaran pertama dari jumlah peserta didik yang mengikuti kegiatan penelitian yang dilaksanakan akan memperoleh skor perolehan dari putaran pertama ke putaran kedua yaitu nilai rata-rata dari 74,09 menjadi 79,24, dan dari putaran kedua ke putaran ketiga yaitu nilai rata-rata dari 79,24 menjadi 85,75.

PENUTUP

   Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data hasil penelitian pada pelaksanaan proses belajar dan pembelajaran selama tiga putaran, dan dilakukan pembahasan serta analisis data maka dapat disimpulkan yaitu:

  1. Aktivitas peserta didik selama mengikuti proses pembelajaran dengan menerapkan metode demonstrasi dan bermain peran menunjukkan peningkatan yang memuaskan. Hal ini terlihat dari hasil persentase peserta didik pada putaran I (pertama) 48,5%, putaran II (kedua) menjadi 84,8%, dan putaran III (ketiga) meningkat menjadi 99,9%.
  2. Respon peserta didik terhadap proses pembelajaran dengan penerapan metode demonstrasi dan bermain peran pada materi berpakain dan berhias serta bertamu dan menerima tamu, menunjukkan peserta didik merasa senang dan mudah memahami materi yang diterapkan penelitin
  3. Hasil belajar peserta didik kelas X IPS 1 UPT SMA Negeri 2 Sidrap tahun pelajaran 2020/2021 mengalami peningkatan untuk kategori kriteria ketuntasan minimal dari 48,5 % pada tes akhir pertemuan pertama menjadi 84,5% pada tes akhir pada pertemuan kedua dan menjadi 99,9% pada tes akhir pertemuan ketiga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KEPUSTAKAAN

Al-Quran dan Terjemahnya.

Abdul Halik, Yusfira, Penerapan Metode Resitasi dalam Meningkatkan Prestasi     Belajar Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam  Di UPT SMA Negeri 1 Wajo, Jurnal Istiqra’ Vol 7 No 1 September. 2019.

Ahmadi, Abu. Ilmu  Pendidikan, Jakarta:Reneka Cipta, 2008.

Arifin, Muzzayyin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Buna Aksara, 2002.

Athyah Al-Abrasyi, Muhammas. Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1984.

Abu Achmad Cholid Narbukodan, Metodologi Penelitian, (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2010.

Ali, M, D. Pendidikan Agama Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010.

Alwasilah C, Pokoknya Studi Kasus Pendekatan Kualitatif, Bandung: PT.Kiblat Buku Utama, 2015.

Arif Mustofa dan Muhammad Thobroni Belajar dan Pembelajaran (Cet. II; Jogjakarta: Ar-ruz Media, 2013.

Astutik, Y. dan Hermanto, Strategi Penanaman Nilai-Nilai Moral pada Siswa SMK Negeri 1 Pungging Kabupaten Mojokerto, Jurnal Kajian Moral dan Kwarganegaraan. Vol. , No. 1, Tahun 2013.

Aqib Zainal Chotibuddin, Teori Dan Aplikasi Penelitian Tindakan Kelas (PTK), Cet, I, Yogyakarta: CV Budi Utama, 2018.

Ardial, penelitian Komunikasi, Cet.2 Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2015.

Furchan, Arief, Pengantar Penelitian dalam Pendidikan (Cet. IV; Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2011.

Gunawan,  H.  Pendidikan Karakter Konsep dan Implementasi,  Bandung: Alfabeta 2012

Gunarti,  Winda. Metode Pengembangan Perilaku Dan Kemampuan Dasar Anak Usia Dini, Jakarta: Universita Terbuka, 2010.

Gafur Marzuki Abdul Jurnal Istiqra, “Pelaksanaan Pembelajaran Learning dalam mengembangkan kemempuan menulis Mahasiswa PAI Fakultas Tarbiyah IAIN Palu”. Jurnal.IAINpalu.ac.id/indeks.php/list/article/view/229 , 01 September 2019.

Gunarti, Winda  Metode Pengembangan Perilaku Dan Kemampuan Dasar Anak Usia Dini, Jakarta: Universita Terbuka, 2010.

Hamid,  H  dan Saebani, B.A. Pendidikan Karakter Perspektif Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Hamzah, A. Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi. Bandung: Alfabeta, 2014.

Helius Syamsudin, dan Enok Maryani Pengembangan Program Pembelajaran IPS untuk Meningkatkan Kompetensi Keterampilan Sosial, 2009.

Herdiansyah, H. Metodologi Penelitian Kualitatifuntuk Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: Salemba Humanika, 2010.

Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008.

Hanifah ,Nurdinah. Memahami Penelitian Tindakan Kelas dan Aplikasinya, Cet, 1, Bandung: Lipi Press, 2014.

Hidayat, N. Aqidah Akhlak dan Pembelajarannya. Yokyakarta: Ombak, 2015.

Irwan Nasution dan Syafaruddin Menajemen Pembelajaran, Cet. I; Jakarta: Quantum Teaching, 2005.

Langka, Erma.Penerapan Strategi Pembelajaran Active Learning (تَعْلِيْمُ فِعْلِيٌ) Picture Describing (وَصْفُ الصُّوْرَةِ) Terhadap Peningkatan Motivasi Belajar Bahasa Arab Peserta Didik Kelas XI MAN Barant Kabupaten Sidrap.Tesis UIN Aluaddin Makassar.

Muflihah, Penerapan Strategi Make a Match Guru Pendidikan Agama Islam Terhadap Prestasi Belajar Peserta Didik Kelas VIII MTs Al-Wasilah Lemo di Desa Kuajang Kecamatan Binuang Kabupeten Polewali Mandar. Tesis UIN Alauddin Makassar. 2017.

Mulyasa, Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Pembelajaran KBK (Bandung:  PT Remaja Rosda Karya, 2004.

Muhammad, Asrori, Penelitian Tindakan Kelas (Bandung: CV Wacana Prima, 2007.

Muhammad, Shaleh,  Dinamika  pendidikan Era Modern, Bandung: CV Mandiri Press, 2006.

Mulyono, Strategi Pembelajaran, Malang: UIN Maliki Press, 2012.

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005.

Mujiono danHasibuan.Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT. Rosdakarya.

Muslich, Mansur, Bagaimana Menulis Sripsi, Jakarta:PT. bumi aksara, 2009.

Nasution, Metide Research (Penelitian Ilmiah), Jakarta: PT Bumi Aksara.

Nata, Abudin, Perspektif Islam Tentang Strategi Bidang Studi (Cet. I;Jakarta: KhariUPT SMA Putra Utama, 2009.

Rohani, Ahmad Pengelolaan Pengajaran, Cet. 2; Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004.

Rifai,Muhammad. Aqidah Akhlak (Untuk Madrasah Tsanawiyah Kurikulum 1994 Jilid I Kelas I). Semarang: CV Wicaksana, 1994.

Rasyad, Aminuddin. Metode Pembelajaran Pendidikan Agama, Jakarta: Bumi Aksara, 2012.

Rachmat Kriyantono, Teknik Praktis Riset Komunikasi, (Jakarta: Kencana, 2006.

Sudjana.Nana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Cet. 11; Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008.

Salim,et-al, Peter. Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: Modern English, 2010.

Sumardi, Mulyanto. Pengajaran Bahasa Asing, Jakarta: Bulan Bintang, 1997.

Syaiful Bahri Djamarah, Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005.

Silberman, Mel, Active Learning: 101 Strategi Pembelajaran AktifYogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2007.


TAG

Dipost Oleh wakahumas

wakil kepala sekolah bidang humas

Tinggalkan Komentar